بسم الله الرحمن الرحيم

*?Hukum shalat tahiyyatul masjid*

✅Shalat tahiyyatul masjid pada hakikatnya terjadi silang pendapat dikalangan fuqaha'(ulama fiqih) ,

✅akan tetapi sekumpulan fuqaha’ berpandangan *tidak ada perselisihan* tentang disunnahkannya tahiyyatul masjid, ini adalah pendapat imam 4 (Assyafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah) demikian pula *ini pendapat Ibnu Hazm adzdzahiri*, diantara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah:

?hadits dari sahabat Abu qatadah yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dan Muslim dalam shahih keduanya:

إذا دخل أحدكم المسجد فليركع ركعتين قبل أن يجلس

Apabila salah seorang dari kalian masuk masjid maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum duduk ”

?Al imam adzdzahabi Rahimahullah mengatakan didalam kitabnya tadzkiratulhuffadz :

هذا حديث صحيح متفق على أن الأمر فيه أمر الندب

? ini adalah hadits yang shahih yang disepakati bahwa perintah disini adalah bermakna anjuran.

?Dan juga hadits
Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu,

جَاءَ رَجُلٌ يَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالنَّبِيُّ صل الله عليه وسلم يَخْطُبُ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صل الله عليه وسلم : اجْلِسْ فَقَدْ آذَيْتَ

Seorang laki-laki datang pada hari Jumat lalu melangkahi punggung-punggung jamaah yang sedang duduk. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda, *Duduklah!* Sungguh engkau telah mengganggu (menyakiti)

?Berkata ulama : Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak memerintahkannya untuk shalat, kalau seandainya hukumnya wajib beliau tidak akan mengatakan اِجْلِسْ
( Duduklah) tentu beliau akan memerintahkan shalat terlebih dahulu,

?Dan juga diantara dalilnya adalah hadits ka’ab Ibnu Malik, Kisahnya yang masyhur di dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim, ketika beliau datang kemasjid ingin menemui Rasulullah dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melihatnya tersenyum marah, kemudian memanggil nya dan *memerintahkannya duduk* , kemudian menanyainya : apa yang membuat engkau tertinggal dari berperang❓….

?Berkata ulama:

?Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak memerintahkannya untuk shalat sebagaimana yang beliau perintahkan kepada sahabat yang lain ,

?dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak mengingkari duduknya.

?Oleh karena ini Ibnu Abi Syaibah Rahimahullah menyebutkan atsar dari Zaid Ibnu Aslam al’adawiy (Aslam ini Adalah bekas budak ‘umar Radhiyallahu anhu) Zaid ini adalah salah seorang alim , Faqih, termasuk ahli tafsir Al-Quran dan dia menjumpai sahabat-sahabat yang kecil, dia mengatakan: dahulu sahabat nabi shalallahu alaihi wasallam masuk masjid kemudian keluar dan tidak melakukan shalat (tahiyyatul masjid) dan saya melihat Ibnu Umar melakukannya,

☝Ini diantara dalil dalil yang mengatakan hukumnya adalah Sunnah, dan mereka menguatkan bahwa dalam hal ini ada yang menukil ijma'(kesepakatan para ulama) tentang Sunnahnya tahiyyatul masjid , diantara ulama yang menyebutkan ijma’:

? Ibnu abdilbarr didalam attamhid , Ibnu bathtal didalam syarh shahih al-Bukhari, alqhadiy iyadh dalam syarhnya Muslim, Al ikmal, alqurthubiy dalam syarhnya shahih Muslim, annawawi dalam syarh shahih Muslim, Ibnu Rajab dan Ibnu hajar dalam Fathul bari mereka, dan al’aini dalam syarh sunan Abi daud.

?Yang menyelisihi pendapat ini bisa dihitung dan mereka dikenal,

? yang dikepalai oleh Daud adzdzhahiriy ia berpendapat tahiyyatul masjid hukumnya adalah wajib bagi orang yang masuk masjid dan ingin duduk, dan mengikutinya alkhaththabiy , ashshan’aniy, asysyaukaniy dan assyaikh al-Albaniy Rahimahumullah,

? mereka berdalil dengan dzhahir perintah dalam hadits

?dan hadits yang disebutkan tentang seseorang yang masuk masjid dihari Jum’at maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata kepadanya (dalam keadaan beliau sedang berkhutbah) apakah engkau sudah shalat, maka dia menjawab: belum maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memerintahkannya shalat, hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dan disebutkan secara jelas didalam riwayat Muslim bahwa namanya adalah sulaik alghatafani,

?akan tetapi para ulama menjawab: bahwa perintah disini (didalam hadits diatas) adalah perintah yang bentuknya anjuran,

✋bukan pengharusan, maknanya : ini adalah yang paling sempurna dan Afdhal (jika dia shalat, maka Afdhal)

✅Pendapat yang benar adalah pendapat jumhur(mayoritas ulama) yaitu hukumnya adalah Sunnah bagi yang mengatakan terjadi perselisihan ,

? padahal bisa kita katakan : *yang menyelisihi pendapat ini telah didahului ijma’ (kesepakatan ulama tentang Sunnahnya tahiyyatul masjid)*

? Adapun yang berpendapat wajib yang paling puncak dari mereka adalah Daud adzdzhahiriy kemudian diikuti orang-orang yang setelahnya seperti alkhaththabiy di akhir kurun ke empat, ashshan’aniy dan asysyaukaniy di kurun ke 12 dan 13.

?Faidah dari dars assyaikh Arafat Ibnu Hasan almuhammadi.

Dalam rekaman beliau : http://bit.ly/2BIiLTQ

?Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu ‘umar غفر الله له

Website: ?
Salafycurup.com

?Telegram.me/salafycurup