🚲✋Sibuk mencari nafkah bukanlah ‘udzur dari menyia- nyiakan pendidikan anak

🎙Assyaikh Muhammad Ibnu Shalih al ‘Utsaimin Rahimahullah.

Pertanyaan: 📝
Wahai Syaikh yang mulia Anda mengetahui bahwa sebagian ayah sibuk dengan pekerjaannya, terkadang tidak sempat bertanya kepada anak-anaknya tentang tingkat pelajaran mereka atau siapa saja yang menjadi teman mereka, apakah ini menyia-nyiakan terhadap hak-hak mereka ❓

Jawaban : 🔓
Perkataannya(Yang disebutkan dalam pertanyaan) :

👉 “sesungguhnya dia sibuk dengan pekerjaan-pekerjaannya”, kita katakan:

👉Termasuk dari pekerjaannya yang paling besar adalah anak-anaknya,

✊Tanggung jawab terhadap mereka lebih besar dari tanggung jawab terhadap perniagaannya,

🖊Kita tanya (kepadanya) apa yang diinginkan dari perdagangannya ❓

↪Tidaklah yang dia inginkan darinya melainkan untuk menafkahi dirinya dan keluarganya .

🍚Ini makanan bagi tubuhnya,
*Sementara yang lebih penting dari itu adalah makanan hati,makanan ruh.

🌾Menanamkan keimanan dan amal shalih di jiwa anak-anak,

📖Kemudian hendaklah diketahui bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam mengatakan: apabila seorang insan meninggal dunia terputuslah amalannya kecuali tiga perkara,
➡Shadaqah jariyah
➡Ilmu yang bermanfaat
➡Dan anak shalih yang mendoakannya.

✔Anak shalih akan memberikan manfa’at kepada kedua orang tuanya di masa hidupnya dan ketika wafatnya,

💎Maka dia (anak shalih tersebut) lebih utama dari pemeliharaan harta,

💰(Adapun) jika dia memiliki kekayaan maka memungkinkan baginya menjadikan para pekerja untuk menjalankan niaganya, dan Jika selain itu(tidak memiliki kekayaan) maka sesungguhnya Allah berfirman:
ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب
Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan jadikan jalan keluar untuknya, dan berikan rezeki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka.

Sumber: 💿

Alih bahasa: 📲
Abu Fudhail ‘Abdurrahmaan Ibnu ‘umar غفر الله له.

Website: 🌏
Salafycurup.com

➡Telegram.me/salafycurup