Salafy Curup:
بسم الله الرحمن الرحيم

✊Wahai saudaraku sesungguhnya semua itu telah Allah tentukan

✔Allah subhanahu wata’aala berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚإِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗوَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Tiada suatu Musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian, dan supaya kalian jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,
(Alhadid; 22-23)

?Berkata Assyaikh Al’allamah Abdurrahman Ibnu Nashir Assa’di Rahimahullah.

?Allah ta’ala mengabarkan tentang qadha’ dan qadarnya,
(Allah menyatakan)

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُم

Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri.

?Ini adalah mencakup terhadap keumuman yang menimpa makhluk berupa kebaikan dan kejelekan,

✅Semuanya sungguh telah ditulis di lauhul Mahfudz, besar dan kecilnya.

?Ini adalah perkara yang agung yang akal tidak bisa meliputinya, bahkan perkara ini bisa membuat heran hati setiap orang yang berakal,
Akan tetapi perkara ini mudah bagi Allah,

⚖Allah mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya hal itu agar kaidah ini menetap pada mereka dan mereka membangun diatasnya (berjalan diatas prinsip tersebut) apa saja yang menimpa mereka baik hal itu adalah kebaikan dan kejelekan,

✋maka jangan berputus asa dan bersedih atas apa yang luput dari mereka (yaitu)dari apa yang mereka cita-citakan dan inginkan,

✍Karena mereka mengetahui bahwa hal itu *mesti berlangsung dan terjadi, maka tidak bisa ditolak.*

❌Dan jangan mereka terlalu bergembira dari apa yang mereka dapatkan, (yaitu) kegembiraan yang disertai kesombongan dan keangkuhan,

?Karena mereka mengetahui bahwasanya tidaklah hal itu didapatkan karena kekuatan mereka,

?Mereka mendapatkannya dikarenakan keutamaan dan kenikmatan dari Allah,

?Maka mereka bersyukur disebabkan mendapatkan kenikmatan dan terhindar dari bahaya, oleh karena itu Allah mengatakan:

ۗوَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Yaitu sombong , keras dan kasar, kagum terhadap dirinya sendiri, suka membanggakan diri dengan kenikmatan dari Allah, ia menyandarkan nikmat tersebut kepada dirinya sendiri sehingga kenikmatan tersebut melalaikannya,

?sebagaimana Allah tabaraka wata’aala berfirman:

إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ ۚبَلْ هِيَ فِتْنَةٌ

kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni`mat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi ni`mat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian,
(Az-Zumar 49).

Sumber: ?
Taisir al karimirrahman.

Diterjemahkan oleh: ?
Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu ‘umar غفر الله له

Website: ?
Salafycurup.com

?Telegram.me/salafycurup